Close

Sedang Ramai Di Kalangan Kreatif AS, Desainer di Balik Rebrand Pepsi dan Tropicana yang Gagal Kini Tangani Branding Pemerintah

avatar Tidak diketahui
Peter Arnell, image from The Next Web

Nama desainer Peter Arnell kembali ramai dibahas di Amerika Serikat. Sosok yang dikenal lewat dokumen redesain logo Pepsi yang dianggap rumit dan redesain kemasan Tropicana yang menyebabkan penurunan penjualan hingga 20 persen itu kini ditunjuk sebagai Chief Brand Architect pertama untuk pemerintah federal AS. Tugasnya tidak kecil: membantu menyusun sistem branding terpadu untuk sekitar 27 ribu website pemerintah dalam waktu kurang dari dua bulan.

Penunjukan ini langsung memancing banyak reaksi di kalangan industri kreatif Amerika Serikat. Bukan cuma karena proyeknya berskala besar, tetapi juga karena rekam jejak Arnell sendiri sudah lama dianggap kontroversial di dunia branding.

Pemerintah AS Ingin Tampilan Digital yang Lebih Modern

Program ini merupakan bagian dari inisiatif “America by Design” yang dibentuk sejak 2025. Pemerintah AS ingin layanan digital mereka terasa lebih rapi, modern, dan mudah dipakai masyarakat.

Joe Gebbia, co-founder Airbnb yang kini menjadi Chief Design Officer pemerintah AS, pernah menyebut bahwa pengalaman memakai layanan pemerintah seharusnya bisa sesederhana dan senyaman menggunakan produk teknologi modern.

Karena itu, berbagai website federal mulai didesain ulang dengan pendekatan visual yang lebih bersih dan minimalis.

Namun di sisi lain, langkah ini juga memunculkan pertanyaan. Sebab website pemerintah berbeda dengan aplikasi komersial. Fokusnya bukan hanya tampilan, tetapi juga aksesibilitas dan kemudahan dipakai oleh semua kalangan, termasuk lansia dan penyandang disabilitas.

Nama Peter Arnell Jadi Sorotan

Peter Arnell bukan nama baru di industri branding Amerika. Ia pernah terlibat dalam redesign identitas DKNY, Pepsi, hingga Tropicana.

Kasus Tropicana menjadi yang paling sering kembali dibahas setelah pengumuman ini muncul. Pada 2009, desain kemasan ikonik Tropicana yang sebelumnya memakai ilustrasi jeruk dengan sedotan diganti menjadi tampilan minimalis. Perubahan tersebut dianggap membuat produknya kehilangan identitas visual yang sudah dikenal konsumen selama bertahun-tahun.

Menurut laporan The Next Web, redesign itu berujung pada penurunan penjualan sekitar 20 persen hanya dalam waktu singkat sebelum akhirnya PepsiCo menarik kembali desain tersebut dan kembali memakai kemasan lama.

Sementara redesign Pepsi juga sempat viral karena dokumen presentasinya dianggap terlalu rumit untuk perubahan logo yang sebenarnya tidak terlalu besar. Presentasi itu membahas berbagai teori desain hingga golden ratio, dan bertahun-tahun kemudian masih sering dijadikan bahan diskusi di komunitas branding.

Karena itu, ketika Arnell dipercaya menangani branding pemerintah AS, banyak orang langsung mengaitkannya dengan dua proyek tersebut.

Kini Branding Pemerintah Jadi Topik Pembicaraan Orang

Sebagian orang melihat proyek ini sebagai langkah berani untuk memperbaiki wajah digital pemerintah AS yang selama ini dianggap berantakan dan tidak konsisten.

Namun ada juga yang khawatir pendekatan visual terlalu diutamakan dibanding fungsi dasar website pemerintah. Beberapa hasil redesign awal bahkan disebut memiliki masalah aksesibilitas, seperti kontras warna yang kurang jelas dan struktur halaman yang sulit dibaca screen reader.

Kasus ini memperlihatkan bagaimana branding tidak lagi hanya milik perusahaan teknologi atau produk consumer goods. Pemerintah kini juga mulai melihat desain visual dan user experience sebagai bagian dari citra institusi.

Tetapi berbeda dengan rebrand perusahaan biasa, dampak desain website pemerintah jauh lebih sensitif. Jika gagal, yang terdampak bukan hanya citra brand, tetapi juga masyarakat yang bergantung pada layanan publik sehari-hari.

Dengan deadline proyek yang tinggal hitungan minggu, banyak orang kini menunggu apakah langkah ini akan menjadi contoh transformasi digital yang berhasil, atau justru masuk daftar rebranding paling kontroversial berikutnya di Amerika.

Sumber: The Next Web.

avatar Tidak diketahui

Desainer yang tinggal di Jakarta, berpengalaman lebih dari 14 tahun di tingkat nasional dan regional. Spesialisasi keahliannya mencakup perancangan identitas merek, desain logo, serta visualisasi data dan infografik. Sepanjang kariernya, ia terbiasa menerjemahkan isu dan data yang kompleks menjadi narasi visual yang fungsional, berpengalaman mengelola strategi visual untuk komunikasi publik.

Tinggalkan Balasan

Leave a comment

Eksplorasi konten lain dari VIZ Magazine

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

scroll to top