OPINI | Jakarta telah resmi memulai hitung mundur satu tahun menuju pencapaian usia setengah milenium. Penandanya adalah logo resmi “5 Abad Jakarta” yang telah ditentukan pada awal Maret lalu.
Melansir Grafis Masa Kini, logo ini lahir dari sayembara yang melibatkan Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI), pemerintah provinsi, hingga perwakilan Ekonomi Kreatif (Ekraf) sebagai dewan juri. Karya Suka Studio terpilih menjadi wajah perayaan kota ini.
Secara konseptual, gagasan kreatif pada logo yang dibuat dengan melibatkan lebih dari 260 responden ini dieksekusi dengan matang.
Desainnya menampilkan siluet tangan terbuka berwarna-warni, menghadirkan elemen festive yang selaras dengan semangat Jakarta untuk berkembang, beradaptasi, dan terbuka terhadap kemungkinan baru. Ruang kosong (negative space) membentuk angka “5” yang menandai usia terukir di dalamnya. Simbol ini kemudian disandingkan dengan tipografi bertuliskan “Abad Jakarta” dan slogan “Kota Global dan Berbudaya”.
Bias Keterbacaan Pesan
Namun, di balik euforia penerimaan dan pujian terhadap logo ini, ada hal mendasar yang terabaikan dari eksekusinya: keterbacaan pesan yang terganggu karena pemenggalan frasa yang keliru.
Logo “5 Abad Jakarta” memiliki kelemahan pada aspek itu. Dalam kacamata desain, terutama pada prinsip Gestalt, dijelaskan bahwa otak manusia secara alamiah mengelompokkan objek visual berdasarkan kedekatan jarak dan kemiripan bentuk.
Pada logo itu, teks “Abad Jakarta” disusun berdekatan dalam warna hitam pekat. Hal ini membuat kita langsung mengunci perhatian pada frasa tersebut. Sementara itu, angka “5” berwujud semi-abstrak memiliki bentuk dan warna yang sama sekali berbeda.
Perbedaan visual yang terlalu tajam ini memutus koneksi antara angka dan teks utama. Alih-alih membaca “5 Abad Jakarta”, mata kita secara naluriah hanya menangkap frasa yang terpenggal: “Abad Jakarta”. Pesan usia 500 tahun yang menjadi inti perayaan justru berpotensi terdistorsi.
Kesalahan pemenggalan frasa ini juga terjadi pada versi bahasa Inggrisnya. Pesan “5 Centuries of Jakarta” mengalami reduksi menjadi sekadar “Centuries of Jakarta”, konteks waktunya menjadi kabur.
Risiko di Ruang Publik
Ini bukan masalah sepele jika kita memikirkan risiko yang muncul setidaknya dalam waktu setahun ke depan. Berdasarkan mandat Peraturan Gubernur Nomor 57 Tahun 2024, instansi dan BUMD diwajibkan memanfaatkan tema visual ini secara masif untuk materi promosi hingga puncaknya nanti pada 2027. Artinya, penggunaan logo ini akan semakin masif di ruang-ruang publik.
Di layar kaca, angka “5” itu rentan mengalami optical bleed (pendaran optis), di mana detailnya tertutup oleh warna dominan di sekitarnya. Di ranah digital, saat logo diperkecil, pun demikian. Di ruang nyata, ribuan baliho akan terpapar cuaca ekstrem dalam jangka waktu yang lama. Saat degradasi cetakan terjadi dan kontras memudar, batas antara grafis lambaian tangan dan ruang putih di tengahnya akan membaur, mengaburkan angka “5” yang bahkan dari awal sudah berjarak dengan “Abad Jakarta”.
Koreksi dan Alternatif Solusi
Hitung mundur baru dimulai, Pemprov DKI Jakarta masih memiliki ruang untuk melakukan koreksi minor dan pragmatis. Solusi tercepat adalah menambahkan kata “Lima” secara eksplisit ke dalam susunan tipografi, menjadi “Lima Abad Jakarta”.
Namun, solusi itu akan memunculkan redundansi visual. Konsep angka “lima” tampak hingga tiga kali: lewat lima jari, ruang kosong pada siluet tangan, dan teks itu sendiri. Ini tidak ekonomis.
Alternatif lanjutan yang lebih elegan adalah menghapus elemen abstrak angka “5” di dalam ikon tersebut, menyisakan menjadi simbol lambaian tangan saja.
Solusi lainnya, tanpa modifikasi pada teks, buat agar angka “5” pada ikon tangan tersebut menjadi lebih kohesif, nyambung dengan “Abad Jakarta” menjadi satu frasa yang utuh secara visual.
Kejelasan Pesan di Atas Kreativitas
Dalam ranah desain di ruang publik, kejelasan pesan seharusnya tidak boleh dikalahkan kreativitas. Keterbacaan adalah standar minimum yang membuat sebuah desain layak, bukan sekadar simbol yang keren.
Logo ini akan semakin sering terlihat selama setahun ke depan, di jalanan, layar kaca, hingga digital; di mata audiens di Jakarta, di seluruh penjuru negeri, bahkan kawasan regional ASEAN.
Desain di ruang publik seharusnya menutup ruang kesalahan penerimaan pesan sekecil mungkin. Dengan reputasi dan ambisinya menjadi Kota Global, bahkan benchmark bagi kawasan regional dan daerah-daerah lainnya, identitas visual perayaan Jakarta seharusnya tidak perlu membuat publik mengernyitkan dahi hanya untuk mengetahui apa yang sedang dirayakan.
Apalagi, pencapaian usia setengah milenium ini hanya terjadi sekali seumur hidup.




