Nongkrong akhir pekan anak muda zaman sekarang biasanya nggak jauh-jauh dari ngopi di kafe hits atau antre event pop-up. Tapi sadar nggak sih? Ada satu tren skena yang pelan-pelan makin mendominasi feed media sosial kita: jalan-jalan ke museum.
Terlebih sekarang banyak museum yang sudah berbenah menghadirkan pengalaman seru. Antusiasme ini dimanfaatkan Kementerian Kebudayaan melalui unit Museum dan Cagar Budaya (MCB) dengan meluncurkan sebuah inovasi baru bernama Museum Passport. Bebarengan dengan Hari Museum Internasional pada 18 Mei 2026, paspor ini bisa jadi mainan baru yang bakal mengubah cara kita menikmati jejak budaya bangsa.
Sensasi Analog Buat Gen Z dan Alpha
Mengutip Kantor Berita Antara, berdasarkan data survei MCB di tahun 2025, lebih dari 70 persen pengunjung museum itu didominasi oleh anak muda di bawah 35 tahun, terutama dari kelompok usia 18-24 tahun. Menariknya, walau tumbuh di era serba digital, generasi Gen Z dan Alpha ini justru punya ketertarikan tinggi sama hal-hal berbau analog yang bisa dipegang dan dikoleksi.
Kepala MCB, Indira Estiyanti Nurjadin (Esti), menjelaskan kalau ide Museum Passport ini terinspirasi dari nostalgia masa lalu saat mengumpulkan cap stempel bepergian. Ini adalah bentuk pelestarian material culture, sesuatu yang bisa diraba, dikoleksi, dan disimpan sebagai kenang-kenangan fisik yang estetik.
Fakta & Trivia Museum Passport
Biar kamu nggak FOMO dan siap ikut berburu stempel, cek fakta-faktanya:
- Saat ini ada 18 museum dan 34 cagar budaya di bawah naungan MCB (dan akan ditambah dari museum swasta/daerah) yang siap memberikan cap unik dengan desain berbeda-beda untuk paspor kamu.
- Meski versi dummy-nya sudah dipamerkan, Museum Passport ini baru akan dirilis resmi untuk publik pada 16 Juni 2026, bertepatan dengan hari ulang tahun MCB.
- Buku paspor ini adalah hasil public-private partnership dengan Paperina. Nantinya, kamu bisa membelinya di IHA Shop atau toko suvenir museum, dan bahkan ada wacana untuk masuk ke jaringan toko buku besar.
- Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, berharap inovasi ini bisa menjadikan agenda mengunjungi museum sebagai gaya hidup berbudaya, sama lumrahnya seperti orang datang ke mal.
Menyatukan Lewat Jejak Budaya
Di tengah tren global di mana negara seperti Belanda, Singapura, dan Jepang sudah lebih dulu sukses memakai sistem serupa untuk menarik pengunjung, Indonesia akhirnya punya paspor kebanggaannya sendiri. Inovasi ini menjadi langkah awal yang membuktikan bahwa pelestarian budaya itu tidak melulu kaku, tapi bisa dikemas secara interaktif dan menyenangkan.
Gimana, sudah dah siap masukin jadwal museum date di akhir pekan buat menuhin Museum Passport kamu dengan stempel-stempel keren? Kita tunggu saja peluncuran resminya bulan Juni nanti ya.
Sumber: Antara News; Gambar: Dummy passpor adalah gambar AI-generated

